Minggu, 01 Agustus 2010

Salam Satu Jiwa dari Anak Jombang!

Hey Ho!

Phew, tidak terasa lima bulan sudah saya "puasa" posting di blog saya yang ultra sederhana ini. Berbagai kejadian telah mewarnai hidup saya dalam kurun waktu yang cukup singkat itu. Berikut adalah uraian singkatnya, saya susun secara kronologis..
Mungkin sudah agak basi, tapi tidak masalah. Better late than never, right? ^^

1. UN dan UAS
Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah. Secara kronologis, saat itu merupakan tonggak awal "puasa" posting saya. Namun di sisi lain, saat itu merupakan gerbang awal kehidupan setelah saya lulus. Betapa tidak, kalau saja saat itu saya tidak dapat melampaui ujian itu, gerbang menuju bangku universitas tertutup sudah. Dan pastinya jadilah saya menjalani masa SMA selama 4 tahun. Owh, thank God it's only 3 years ^^
Alhamdulillah, UAN dan UAS dapat saya jalani dengan lancar..

2. Pelepasan SMA
Pagi itu cukup panas sebenarnya, tapi ada satu hal yang membuat saya benar-benar dapat menikmati pagi itu, bahkan hingga sepanjang harinya. Upacara pelepasan SMA. Dengan balutan nuansa betawi modern, acara tersebut terlihat cukup ceria dan menggembirakan. Bermodalkan satu stel beskap--jas a la betawi--, dan Honda Vario
Sungguh merupakan momen yang berat namun berkesan bagi saya. Pelepasan merupakan momen formal perpisahan saya dengan teman-teman SMA tercinta. Sungguh sangat berat bagi saya. Kalau saya boleh menangis, teriak, guling-guling di lantai saat itu, pasti sudah saya lakukan. Sayangnya saya tidak cukup gila waktu itu (hellooww.. acara resmi gitu loh. Kalo menggila di saat2 terakhir bisa terkenang sepanjang masa, saya. hhaha).
Well, I like it or not, that's the way it was. The farewell had to happen. Syukurnya, ada mbah facebook. So, saya dan teman-teman bisa keep in touch ^^

3. Masa "Nganggur"
Setelah agenda kegiatan di SMA sudah mulai kosong, jadilah saya "menganggur" di rumah. Ya, meskipun ga nganggur-nganggur amat sih *amat aja ga nganggur. jayus? garing? maaf. hhehe* masih ada beberapa ativitas rutin yang saya lakukan. And what are those?

Makan, tidur, makan (lagi), tidur (lagi)...


nice, huh? nah? whatever.

saya sebenarnya sangat ingin menghindari rangkaian aktivitas "lingkaran setan" ini. Mengingat hal ini dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berarti bagi saya: kenaikan berat badan.
sungguh sangat mengerikan bukan? ckck.

Sesekali memang teman-teman saya mengajak untuk kumpul-kumpul lagi. "Ajang bakar lemak nih" pikir saya. Namun ternyata mereka mengajak kumpul-kumpul di tempat makanan. Dan atas nama solidaritas *WTF??* saya tetap datang ke undangan mereka dengan siap menanggung risiko: lemak nambah tebel.

NOOOOOOOOOOO!!


4. Serentetan Tes Masuk Universitas
Ada milyaran tes yang saya ikuti (jangan percaya, sebenarnya hanya sekitar 7), dan HAMPIR semuanya gagal. Berikut adalah daftarnya, saya susun secara kronologis.

a. SPKS Utul UB
b. UM UGM
c. SIMAK UI
d. SMUP UNPAD
e. PMDK UNAIR
f. UM UMM
g. SNMPTN

lima tes pertama hasilnya sama : MISSION FAILED
well, saya rasa memang itu karena--selain karena kurang belajar--kurangnya motivasi dan krisis kepercayaan diri. Pada saat itu saya bahkan tidak begitu mengerti perbedaan rendah diri dan rendah hati. Alhasil..

Mission: Operation FK PTN
Status : FAILED

Here's some pics: proofs of my missions


Gambar 4.1 Bukti ketidaklulusan SPKS Utul UB (damn!)

Gambar 4.2 Bukti ketidaklulusan UM UGM (damn! *again*)

After longing for a hope under the severe desperation for state university, tibalah informasi tentang UM UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), universitas swasta terunggul di Jawa Timur. Setelah mendapat info, berangkatlah saya ke kota dingin Malang. Saya lalu menjalani serangkaian proses pendaftaran dan administrasi (damn, I always hate administration shi*s!). Hingga akhirnya tibalah saya di gerbang penentuan, Basement UMM Dome. Ternyata, berbeda dengan penyelenggaraan ujian masuk PTN, ruang ujian untuk para FK Hunters dibedakan dengan penarget fakultas lain. Pretty cool with that. That be just fine.
Memasuki ruang ujian, saya dan skitar 800-an FK Hunter lainnya disambut dengan theme song UMM yang sangat nyaring yang diputar berulang-ulang. Juga disambut dengan kursi-kursi (mungkin lebih tepat disebut sofa) ujian yang empuk seperti yang ada di Bioskop. Hati dan pikiran saya mulai gentar waktu itu, tapi saya beranikan diri dan maju terus hingga ujian berakhir.
Beberapa hari pasca ujian diselenggarakan, hasil ujian diumumkan. Seperti biasanya, saya sudah sangat siap dengan kegagalan menembus FK. Namun hasil tetap harus diketahui, bagaimanapun itu. Setelah klik demi klik dan beberapa ketikan di layar laptop saya, hasil ujian akhirnya dapat dilihat. Betapa terkejutnya saya ketika menemukan ada nama saya dalam layar itu, ditemani kalimat "DITERIMA DI FAKULTAS KEDOKTERAN". Alhamdulillah saya diterima di FK UMM. Sayapun kemudian kembali ke Malang untuk (lagi-lagi) menjalani serangkaian proses administrasi di UMM.

Beberapa waktu setelah penerimaan saya di UMM, tibalah saat tantangan yang lebih besar. SNMPTN.
Berbekal kepercayaan diri pasca diterima di FK UMM dan usaha yang lebih keras, saya maju menghadapi tantangan yang satu ini. Ketidakpercayaan diri dan pesimisme kerap menghadang saya dalam perjuangan kala SNMPTN. Saya mantapkan diri, melangkah ke gedung FE UB untuk menjalani SNMPTN selama 2 hari.
Tepat satu bulan setelah tes akbar itu, hasil diumumkan. Saya, seperti biasa, sudah sangat siap untuk mengalami kegagalan tes. Namun kenyataan ternyata berkata lain. Setelah memasukkan nomor ujian, layar berubah. Muncul tulisan "DITERIMA DI PENDIDIKAN DOKTER FKUB". Sontak saya berteriak-teriak, melompat-lompat kegirangan hingga akhirnya menangis bahagia.

5. Hidup Mahasiswa!
Setelah melakukan serangkaian proses registrasi, FKUB akhirnya memanggil saya juga. Beberapa persiapan PK2MABA (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) saya lakukan. Datang ke FKUB untuk sekedar update info setiap hari dan menyiapkan barang-barang bawaan menjadi aktivitas utama kala itu.


Akhirnya, tibalah hari upacara penerimaan Mahasiswa baru Universitas Brawijaya. Penobatan dilakukan secara simbolis oleh Rektor UB, Prof. DR. Ir. Yogi Sugito, dimana seluruh mahasiswa baru atas komando rektor mengenakan jas almamater biru tosca khas UB secara bersamaan. Berjuta kebanggan dan rasa bahagia meluap-luap dalam diri saya kala mengenakan jas tosca itu dan meneriakkan "Hidup Mahasiswa!" bersama ribuan kolega UB 2010 lainnya.

Hari itu adalah hari dimana segala sikap dan sifat kekanak-kanakan harus dibuang
Hari itu adalah hari dimana kesuksesan diawali

Hari itu adalah hari dimana saya menjadi seorang yang baru

Hari itu adalah hari dimana saya menjadi seorang mahasiswa


We are Brawijaya! Salam Satu Jiwa, Para Pemimpin Bangsa!
HIDUP MAHASISWA!!!


*beberapa detail lain akan saya ceritakan menyusul ^^. A big thanks from me to read this post!*

Kamis, 04 Februari 2010

Tugas Sekolah Era Globalisasi

Bagi Anda yang berstatus pelajar pada periode pra-2000an, saya yakin Anda cukup memahami apa yang Anda lakukan dan kerjakan selama menjalani masa pendidikan. Selain itu saya juga cukup yakin kalau Anda menjalani kehidupan pendidikan dengan lebih enjoy dan kurang begitu banyak beban di pundak.

Lain halnya dengan saya dan semua junior saya (mungkin berlaku juga untuk para calon junior saya^^) yang menjalani masa pendidikan pada era 2000an. Why?
Jawabannya adalah komputerisasi di segala bidang, yang berdampak sistemik(???) pada sistem tugas siswa.

Saya sudah merasakan ini sejak mulai duduk di bangku SMP. Adik saya bahkan sudah merasakan efek komputerisasi ini sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. And you know what? Adik saya, yang notabene masih duduk di bangku sekolah dasar, tentunya masih belum lihai mengoperasikan komputer. Saya memaklumi itu. Tapi apa yang saya tidak maklumi? Sayalah yang harus mengerjakan tugasnya! Nooo!

Masih mending kalau hanya harus mengetik beberapa paragraf. Tugas yang diberikan gurunya sangat merepotkan. Bahkan jauh lebih merepotkan daripada tugas-tugas dari guru saya. What's in their mind anyway (primary school teachers)? Ingin membuat orang tua dan seluruh anggota keluarga muriidnya kerepottan? Atau apa? Damn!

Stop talking about my lil' bro. Let's talk about my thoughts, a'ight? ^^

Di satu sisi, tugas-tugas ini memang penting untuk diberikan dan dikerjakan karena seringkali pelajar harus "dicambuk" dulu baru mau belajar. Maksudnya kalau tidak ada tugas ya tidak belajar. Nah, kalau yang satu ini termasuk aliran saya. Hehehe^^
Namun alangkah baiknya kalau tugas-tugas ini dibuat simpel dan efisien. You know, gak nyusahin siswa. Kenapa saya bilang tidak efisien? Karena tugas-tugas tahun 2009/2010 pada umumnya menitikberatkan pada pembuatan laporan-laporan atau makalah-makalah yang super merepotkan, dan ujung-ujungnya harus dipresentasikan bersama teman-teman. Padahal, yang ada hanyalah copy-paste dari sumber dunia maya. Mengerti apa yang ditulis? Tentu tidak. Efektif? Menambah wawasan? Apalagi. Hell no!

Yang sebenarnya saya soroti disini adalah efektivitas tugas. Percuma rasanya jika siswa capek-capek membuat tugas makalah setebal ensiklopedia, yang terlihat keren dan penuh ilmu, tetapi tidak paham sama sekali apa yang kita buat. Waste of money, energy and time. Padahal uang, energi dan waktu adalah yang harus kita miliki untuk bertahan hidup di zaman serba keras seperti saat ini. Apapun.

Menurut saya yang lebih penting bukannya bagus/tidaknya hasil kerja secara bentuk fisik, tetapi pemahaman tentang materi yang diberikan. Sebaiknya tugas-tugas makalah itu dikurangi saja karena ya itu tadi, selain waste of money and time juga worthless. Cara yang lebih baik adalah presentasi lisan tentang materi yang diperintahkan oleh guru untuk disimak di rumah. Menurut saya cara ini jauh lebih efektif dan efisien karena selain ekonomis, metode ini juga dapat dijadikan para guru sebagai tolak ukur pemahaman semua muridnya.

Sebenarnya posting ini saya terbitkan tidak lain adalah karena saya malas mengerjakan tugas berbentuk makalah. They're just too annoying and being such a pain in the a** for me. Hhaha..

Well, that's it for now.

Senin, 25 Januari 2010

Super Big Match

Pada suatu siang yang cerah di akhir pekan, setelah saya menunaikan kewajiban saya sebagai seorang pelajar, saya bergegas pulang ke rumah untuk mempersiapkan segala kelengkapan plus tetek bengeknya untuk pergi menuntut ilmu di salah satu pusat bimbingan belajar terkemuka di kota saya.

Sesampainya di rumah, waktu itu jam di rumah saya menunjukkan angka 3, dan hari sudah agak sore, sehingga waktu tersebut bisa saya katakan pukul 3 sore. Whatever. Sementara waktu itu jam masuk bimbingan belajar adalah juga pukul 3 sore (sekarang pukul setengah lima sore). Karena letak pusat bimbingan belajar ke rumah saya cukup dekat (hanya sekitar 0,12427 mil), saya santai saja. Lagipula bagi saya, terlambat bimbel 30-45 menit adalah hal biasa. Karena pola pikir saya soal bimbel pada umumnya adalah "masih mending mau dateng. Bolos aja ga ada yang ngelarang. Yang penting kan udah bayar". Annoying, eh?

Waktu terlambat yang saya pakai di rumah itu saya manfaatkan untuk makn siang dan santai sejenak. Saya mengambil seporsi makan siang dan segelas besar air putih dingin, lalu saya bawa ke depan televisi di depan kamar saya. Sebelum saya mulai menyantap makan siang saya, saya menyalakan televisi lalu megambil remote control untuk mencari program televisi yang mungkin ada yang saya sukai.

Setelah beberapa pijitan kecil pada remote mungil nan canggih itu, televisi mempertontonkan sebuah tayangan yang cukup menarik perhatian saya waktu itu. Sebuah pertandingan sepak bola.

Bagi Anda yang gemar menyaksikan pertandingan sepak bola liga-liga populer dunia, tentunya paham benar bahwa pada umumnya liga-liga yang populer adalah liga-liga sepak bola dari benua biru. Dan tentunya Anda, para penggemar sepak bola, juga pasti tahu kalau biasanya pertandingan sepak bola ditayangkan secara live, sehingga waktu penayangannya di Indonesia berbeda beberapa jam, mengakibatkan pertandingan sepak bola ditayangkan pada tengah malam hingga pagi dini hari, sekitar pukul 23:00 hingga pukul 02:45.

Karena saya baru mempelajari materi silogisme pada mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia, maka izinkanlah saya untuk menulis sebuah silogisme.

Premis umum: Semua pertandingan sepak bola liga Eropa ditayangkan pada tengah malam hingga pagi dini hari.
Premis Khusus: Pertandingan sepak bola yang saya tonton tidak ditayangkan pada tengah malam hingga pagi dini hari.
Kesimpulan: Pertandingan sepak bola yang saya tonton bukan pertandingan sepak bola liga Eropa.
Entimen: Pertandingan sepak bola yang saya tonton bukan pertandingan sepak bola liga Eropa karena tidak ditayangkan pada tengah malam hingga pagi dini hari.

Uh huh. That's right, buddy!
Yang saya tonton bukan pertandingan liga Eropa. Guess what? Liga Indonesia!

Jujur saja saya kurang paham tentang sepak bola, termasuk sepak bola lokal. Di atas hanya saya sebutkan "Liga Indonesia" saja karena saya kurang tahu apa nama ajang atau divisi pertandingan sepak bola yang saya tonton waktu itu.

Well,saya menonton pertandingan itu tepat pada waktunya. Pada saat host dan komentator sedang membahas kondisi kedua klub dan memprediksi jalannya pertandingan. Saya yang pada saat itu cukup antusias, memperhatikan dengan saksama beberapa pria dandy berjas hitam yang sedang berbicara dalam televisi.

Mulanya semua terlihat normal-normal saja.Tidak ada yang aneh. Hingga pada akhirnya host dandy itu mengatakan sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya, sesuatu yang kurang pantas dikatakan kepada pemirsa seluruh Indonesia.

"Baik pemirsa, inilah partai super big match antara tim X dan tim Y"
ket:
Tim X adalah tim kacangan
Tim Y adalah (juga) tim kacangan

"What The???"

Kalimat itulah yang ada di pikiran saya saat saya mendengar kalimat perkataan host tersebut. Betapa tidak, pertandingan antar dua klub kacangan disebut super big match! It pisses me off, mate!

Dan satu hal yang membuat saya terus bertanya-tanya, bahkan sampai posting ini diturunkan, adalah kenapa host pertandingan sepak bola lokal melakukan hal demikian? Why? Give me the reason, why?
Apa sebenarnya tujuan dibalik hal ini, dan apa kira-kira keuntungan yang bisa diperoleh dari melakukan hal-hal yang demikian? Saya rasa masyarakat juga tidak akan dengan mudah tergoda dengan embel-embel "super big match" di setiap laga sepak bola lokal. Juga dengan melakukan hal ini tidak akan mengubah kualitas permainan tim-tim lokal, atau mengurangi kerusuhan supporter tim. Well, pada dasarnya menyebut semua pertandingan "Super Big Match", "Ultra Big Match" atau bahkan "Ultra Hyper Super Duper Extra Big Match" pun tidak akan dapat mengubah fakta bahwa sepak bola di negara kita masih Small, alias jauh dari kualitas prima.

Wow, inilah Indonesia saya. Hampir semua pertandingan disebut super big match. Who versus who? Doesn't matter. That's one of many things that makes my beloved country unique and funny.

Boom Boom Pow!

Rabu, 20 Januari 2010

Sympathy for Indonesian Pedestrians

Kala berkendara dengan Pinkslip, skutermatik kesayangan saya, saya sering melihat banyak sekali orang makan di jalan raya. Namun makan di sini bukannya makan secara denotasi seperti makan bakso, makan nasi goreng, makan mie ayam, dsb. melainkan "makan" hak orang lain, yaitu para pejalan kaki.

"Pemakan" hak orang disini tidak lain dan tidak bukan adalah para pengendara sepeda motor yang kerap kali menggunakan trotoar yang seharusnya digunakan para pejalan kaki. Bahkan tak jarang angkutan kota a.k.a. angkot pun--yang well.. you know lah.. cukup GEDE-- turut "makan" trotoar! Damn!

Kemarin pagi, dan hari-hari sebelumnya, hati saya bergetar hebat ketika menyaksikan Siswa-siswi SD dan SMP serta beberapa pejalan kaki yang terpaksa harus minggir dari trotoar yang seharusnya menjadi hak mereka dan merapatkan dirinya ke dekat selokan pinggir jalan lantaran para pengendara sepeda motor yang berhamburan membanjiri trotoar untuk menghindari antrean kemacetan parah di jalan raya dekat sekolah saya.

Ingin rasanya saya berteriak kepada mereka "WOI! JANGAN MAKAN HAK ORANG, BANG**T!!", namun apa daya, hal tersebut tidak mungkin saya lakukan (kecuali kalau saya ingin memperparah kemacetan karena keributan dengan pengguna jalan lain), dan pada akhirnya saya hanya melihat mereka dan turut bersimpati serta berteriak-teriak dalam hati. Sungguh pemandangan yang sangat mengiris hati. I guarantee that you won't like to see it. Trust me.

Bukan sebuah fenomena hebat yang patut disorot media masyarakat luas memang, namun bagi saya ini merupakan krisis etika yang sedang berlangsung dan marak di masyarakat.

Pemerintah yang sebelumnya sempat berwacana akan menggalakkan pedestrianisasi, atau pembudayaan berjalan kaki, saya rasa akan sangat sulit mewujudkan wacana tersebut karena tenggang rasa yang sangat minim dari para pengguna jalan yang acapkali menggunakan trotoar.

Sejak menyaksikan banyak kejadian seperti itu, saya berkomitmen pada diri saya untuk tidak "makan" trotoar (kecuali kalau berangkat terlambat atau kalau tidak ada pejalan kaki disana). Tentunya kalau sudah sangat kepepet.Hhehe,

Okay then, see you at another post!

Sabtu, 16 Januari 2010

Survival is Awesome

Saat pertama kali mendengar kata "survival", hal yang terlintas dalam benak saya adalah suatu kondisi dimana seorang anak manusia berada di tengah alam bebas nan ganas yang siap merenggut nyawanya cepat atau lambat, dan ia harus melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Dan atau kata yang paling pas untuk melukiskan hal ini di benak saya: keren.

Hingga pada suatu hari di negeri teletubbies -sekolah saya tercinta- saya menemukan sebuah buku tentang teknik bertahan hidup, dengan judul "Survival, Teknik Bertahan Hidup di Alam Bebas" di perpustakaan sekolah saya tercinta. Saya langsung meminjam buku itu. Ternyata buku itu menjawab cukup banyak pertanyaan dan rasa ingin tahu saya seputar survival. Mulai dari air yang layak diminum dan hewan serta tumbuhan yang dapat dimakan beserta cara mendapatkannya, cara membuat shelter, perangkap dan obat-obatan alam, serta hal-hal lain seputar teknik bertahan hidup. Wow.

Setelah membaca buku tersebut hasrat saya untuk mencoba bertahan hidup di alam bebas semakin menggelora, hingga saat ini. Konyol memang, dan saya sendiri menyadari hal itu. Namun bagi saya itu tidak masalah. Manusia memiliki keinginan yang aneh, tidak menjadikannya tidak manusiawi, bukan?

Ah, yes. Sebuah contoh survival.

Seorang korban selamat dari kecelakaan kapal laut yang hidup terombang-ambing di atas sebuah papan kayu selama beberapa beberapa bulan, dan sebagai seorang manusia, tentunya ia memiliki naluri untuk mempertahankan hidupnya. To stay alive. Dan kita tentunya tahu bahwa tidak ada yang bisa dilakukan di tengah-tengah laut dengan kondisi demikian. Bahkan meminum air laut pun bukan ide yang bagus untuk bertahan hidup, karena meminumnya dapat menyebabkan kehausan yang lebih parah. Ia terperangkap dalam sebuah kondisi yang sulit. Amat sulit. Anda tahu apa yang dilakukan orang tersebut? Ia bertahan hidup dengan memakan bajunya sendiri! Sungguh tak terbayangkan oleh saya, sebuah usaha manusia untuk mempertahankan hidupnya bisa begitu mengagumkan. Sebagai tambahan, untuk air minum ia mengandalkan air hujan, yang secara umum masih layak untuk diminum. Dan untuk hal ini, saya membayangkan survivor itu menengadahkan tangannya ke langit layaknya orang berdoa untuk menampung air, atau bahkan mangap-mangap menghadap langit untuk langsung meminum air hujan. Tawa geli dan takjub berpadu jadi satu saat saya mengetahui hal tersebut. Tawa karena membayangkan seseorang memakan baju dan mangap-mangap untuk meminum air hujan dengan noraknya, dan takjub karena potensi seorang manusia benar-benar dimaksimalkan dalam kondisi sesulit itu.

Pada kesempatan kali ini, izinkan saya mengutip satu kutipan yang benar-benar saya ingat dan sukai:

"Life is a game, so fight to survive and find out if you're worth it" (Teacher Kitano, Battle Royale)


Untuk saat ini saya rasa cukup sampai disini saja. Sampai jumpa di posting berikutnya, tentunya tetap di blog ga penting yang sama, Catatan Anak Jombang.

I'll be back.

Senin, 07 Desember 2009

Wartel, The Endangered Species

Once upon a time, dimana telepon dan komunikasi jarak jauh masih merupakan hal yang berharga, kita masih bisa menemukan wartel dimana-mana. Di stasiun, perumahan, gang-gang kecil bahkan di mall sekalipun. Namun sekarang saya merasa wartel semakin jarang dan sulit untuk ditemukan, atau bahkan tidak ada sama sekali terutama di lungkungan kota-kota besar.

Keberadaan wartel kini tergeser oleh "invasi" teknologi telepon seluler yang membanjiri masyarakat yang jauh lebih praktis, canggih bahkan lebih murah jika dibandingkan dengan wartel yang masih menggunakan teknologi telepon rumahan. Selain itu, tentunya masyarakat lebih memilih telepon seluler karena:

1. Telepon seluler bisa digunakan sebagai media "bangga-banggan". Karena selain ponsel bisa dibawa kemana-mana, ponsel juga punya fitur yang keren-keren, yang pastinya bisa dibanggain ke teman-teman, sanak famili, handai taulan, binatang peliharaan, dll. Dan Anda tentunya tidak bisa membanggakan KBU (Kamar Bicara Umum atau apalah saya lupa kepanjangannya) Anda karena Anda tidak bisa membawanya ke teman-teman Anda. Yang ada, Anda bawa teman Anda ke KBU tersebut.

2. Telepon seluler bisa menciptakan sensasi, duit dan kehebohan di masyarakat.
Banyak artis, koruptor, politisi, pengusaha dan public figure lainnya yang membuat sensasi lewat ponsel atau ketahuan belangnya karena pembicaraannya disadap oleh pihak tertentu bahkan ada juga yang aktivitas "panas"nya yang direkan di ponsel bocor ke masyarakat. Kenapa nyangkutnya ke duit? Secara tidak langsung, artis yang bikin sensasi akan dapet popularitas dan job lebih banyak, yang mana job itu mendatangkan duit. Nah, kalau contoh duit yang langsung adalah tukang pulsa dan tukang ponsel. Jarang banget 'kan orang yang jualan KBU?? Ya, whatever.

3. Menggunakan jasa wartel bikin orang jadi nervous, parno dan takut.
Bukan karena angker, gelap atau baunya suatu KBU atau wartel, tapi karena kotak berkabel yang ada dihadapan pengguna jasa. Kotak berkabel yang saya maksud disini adalah kotak yang memancarkan angka-angka digital yang nilainya terus bertambah seiring dengan durasi pemakaian telepon. Apalagi kalau Anda menggunakan jasa telepon ke ponsel, interlokal, SLI atau SLJJ. Bisa-bisa anda panik sendiri karena serasa naik taksi tarif baru yang pake "argo kuda". Sensasinya tidak jauh beda. Sebelas-Duabelas lah.



Pernah suatu kali ponsel saya mati dan saya harus membuat panggilan. Akhirnya saya harus mencari wartel. Namun wartel begitu jarang ditemukan, seperti spesies dilindungi, yang eksistensinya makin terancam dan patut dipertanyakan. Finally, ada wartel meskipun letaknya sangat jauh dari tempat saya berada. Beautiful.

Baiklah, sekian presentasi dari kelompok saya, kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih dan sampai jumpa.

Senin, 19 Oktober 2009

Janda dan Tape

Disuatu hari yang cerah di negeri teletubbies *maksud saya di kelas saya yang dihuni bermacam-macam teletubbies seperti saya* sedang dibahas mata pelajaran biologi bersama guru saya. Pada saat itu kelas saya sebenarnya sedang membahas tentang bab metabolisme, tapi entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba guru saya itu membahas tentang pembuatan tape. Pembahasan tersebut (menurut saya) sebenarnya agak melenceng dari konsep yang seharusnya diajarkan, tapi itu tidak jadi masalah buat saya karena hal tersebut kadang-kadang malah menjadikan kelas biologi menyenangkan dan juga bisa membantu menghilangkan kejenuhan kala belajar biologi.

Kemudian guru saya meminta beberapa siswa untuk menjelaskan cara pembuatan tape. Setelah beberapa penjelasan dari teman-teman saya, karena saya masih bingung *dan agak bete* dan kurang kerjaan, saya mencari-cari pekerjaan. Saya memilih untuk mencari rekan mengobrol.

Singkat cerita, saya memulai perbincangan dengan salah satu teman saya, dengan suasana di kelas masih sangat "tape". Tak dinyana, teman saya itu memberi saya sebuah pengetahuan baru seputar tape. Begini ceritanya..

"Eh katanya 'kan kalo bikin tape biar enak harus janda, tau."
"Hah? Janda? Kok gitu?"
"Nggak tau, tapi katanya sih gitu."

Setelah mendapat pengetahuan baru tersebut, saya spontan tertawa geli sambil terus bertanya-tanya dalam hati:

"Sebenarnya apa hubungannya janda dengan tape?"

Why, it keeps me wondering. But still, it's funny.
Sebelum mengakhiri post kali ini, izinkan saya mengutip perkataan salah satu guru saya.

"Bolos berkali-kali dimulai dengan bolos satu kali"